Find in Library
Search millions of books, articles, and more
Indexed Open Access Databases
Muslim diversity: Islam and local tradition in Java and Sulawesi, Indonesia
oleh: Muhammad Ali
| Format: | Article |
|---|---|
| Diterbitkan: | IAIN Salatiga 2011-06-01 |
Deskripsi
Based on some historical and anthropological accounts, this article examines a dynamic interplay between Islam and local tradition in Indonesia with special reference to Java and Sulawesi. It explains how local Muslims differed in their interpretation and application of Islam. It looks at processes of religious change as a world religion interacts with local forces. The “localization” of Islam was a constant feature in the expansion of Islam beyond the Arab homeland, including Southeast Asia. Based on the framework of ‘practical Islam’, rather than ‘normative Islam’, and on the framework of both accommodation and conflict between shari’ah and adat as a whole system, rather than as separate entities, it provides a greater variety of Islamic beliefs and experiences. Comparatively, Javanese people have been more diverse than Sulawesi people in terms of religious spectrum; Muslims in Java have incorporated animism, Hinduism, Buddhism, and Islam into their culture system. Stories about the nine saints show how early Islamic preachers sought to accommodate Islam with local traditions. In Sulawesi, Dato ri Bandang and the other teachers, representing the elite aristocracy who attempted to Islamize the kingdoms and the people alike and Syeikh Yusuf, representing a strict kind of Islam, show diversity but tends to suggest a less diverse picture, when compared to Java. Despite internal diversity in Java as well as in Sulawesi, Java has remained more open and tolerant with cultural diversity, whereas Sulawesi has increasingly become more legalistic. Berdasarkan kajian sejarah dan antropologis, artikel ini membahas hubungan dinamis antara Islam dan budaya lokal di Indonesia dengan rujukan khusus pada Jawa dan Sulawesi. Artikel ini menjelaskan bagaimana orang Islam lokal berbeda dalam memahami dan menerapkan Islam. Artikel ini melihat proses-proses perubahan keagamaan ketika agama dunia bergumul dengan kekuatan-kekuatan lokal. Lokalisasi Islam adalah ciri tetap dalam penyebaran Islam melampaui tanah Arab, termasuk Asia Tenggara. Berdasarkan kerangka “Islam sebagaimana yang dipraktekkan” (‘Islam praktikal’), bukan ‘Islam normatif’ dan kerangka akomodasi dan konflik antara syari’ah dan adat sebagai sistem yang menyeluruh, bukan realitas yang terpisah, artikel ini menawarkan kemajemukan kepercayaan dan pengalaman Islam. Secara komparatif, orang-orang Jawa lebih majemuk daripada orang-orang Sulawesi dalam hal spektrum keagamaan. Orang-orang Islam di Jawa memasukkan animism, agama Hindu dan Buddha, dan Islam kedalam sistem budaya mereka. Cerita-cerita tentang wali songo menunjukkan bagaimana penyebar-penyebar Islam awal berusaha mengakomodasi Islam dengan budayabudaya lokal. Di Sulawesi, Dato ri Bandang dan guru-guru lainnya, yang mewakili kaum bangsawan yang berusaha melakukan pengislaman kerajaan-kerajaan dan orang-orang, dan Syeikh Yusuf yang mewakili kaum yang lebih tegas, menunjukkan keragaman keagamaan, namun tidak semajemuk di Jawa. Meskipun ada kemajemukan di Jawa dan di Sulawesi, Jawa tampaknya lebih terbuka dan toleran dengan perbedaan budaya, sedangkan Sulawesi menunjukkan kecenderungan yang legalistik. Namun demikian, keagamaan jangan dipahami bersifat statis, liner, lengkap, dan selesai.